Jalan-jalan pagi hari membuat perut merasa lapar. Akhirnya perut gembulku ini tidak bisa kompromi lagi dan membuatku bertemu dengan ‘bakul jenang sumsum’ (penjual bubur sumsum) Pertemuan dengan bakul jenang yang ternyata membuatku bisa memberikan makna hidup ini. Sejenak aku perhatikan beberapa pembeli yang membeli jenang sambil menunggu giliranku. Aku perhatikan bagaimana dia membuat pincuk, piring sementara untuk menikmati jenang sumsum itu.
Pincuk terbuat dari lembaran daun pisang, lembaran yang menyiratkan kita selalu memulai dengan lembaran baru. Daun pisang, daun yang sangat murah dan dapat diperoleh, seperti niat baik kita yang harus dengan murah dan mudah diproduksi dalam hati kita. Lembaran daun pisang itu kemudian dibentuk, ini seperti mengingatkanku bahwa niat baik kita juga harus dengan mudah dibentuk dan disesuaikan dengan situasi. Proses ketiga yaitu lembaran yang sudah dibentuk itu ditusuk dan dikunci dengan ‘biting’ atau lidi yang tajam, ini menggambarkan bahwa niat baik kita harus dimantabkan dengan usaha keras, pemikiran yang tajam, seksama, hati-hati dan tegas. Kemudian pincuk itu dituangkan bubur sumsum yang panas dengan kuah gulanya yang panas pula. Namun pincuk itu tahan panas, ini mengingatkanku bahwa kita juga harus tahan terhadap segala ganjalan, halangan, dan kesulitan yang kita hadapi. Untuk menikmati bubur itu kita memerlukan sendok, untuk itulah kita menyobek daun pincuk itu dan dilipatkan untuk menyendok makanan tersebut, ini mengingatkanku bahwa niat, usaha, masih belum cukup untuk mewujudkan semuanya, butuh pengorbanan dari diri kita untuk mewujudkannya. Posisi telapak tangan dalam memegang pincuk, telapak tangan kita harus melindungi pincuk agar tidak tumpah, seperti sikap kita dalam menghadapi permasalahan dengan nrimo. Bentuk pincuk yang terbuka pada satu sisinya dan tertutup pada sisi lainnya mengingatkanku untuk selalu terbuka untuk segala ilmu dan ditutup untuk segala pengaruh buruk. Pincuk juga langsung dibuang oleh pemakannya ketika sudah selesai, dan ini memberikan pelajaran bagiku siapkah aku untuk dilupakan ketika semuanya telah selesai.
Pincuk bagiku telah memberikan pelajaran kehidupan bagiku. Siapkah aku menjadi pincuk-pincuk itu bagi orang lain. Termasuk untuk pasanganku sendiri? Ah…semoga aku mau dan mampu untuk menjadi ‘pincuk” bagi pasangan dan sesamaku. Matur nuwun untuk simbah bakul jenang.
Leave a Reply to rido Cancel reply