Ketulusan dalam Berteman

Aku mandi setelah seharian bekerja dikantor. Setelah mandi, kudapati sms di telepon genggamku berbunyi. Langsung ku buka SMS itu, ternyata dari adikku di Jogja, aku memanggilnya dengan sebutan Ucil. Ternyata sms itu berisi cerita singkat, namun memberikan pelajaran yang sangat berharga buatku. Isinya sebuah cerita singkat.

“Bang, tak critani to. Koncoku khan ngewangi aku tekan bengi. Nah tak silihi pit, jebul pit’e bocor ban’e. Nah koncoku iku arep ngganti ban’e tapi aku ga penak karo de’e soale apikan banget karo aku. Nah aku ngomong aku wae sing ngganti sesuk. Trus koncoku iku nuntun pit’e tekan omah.”

 

Kalau di bahasa Indonesiakan menjadi,

"Bang, aku ceritakan, temanku membantu aku sampai malam, kemudian aku pinjami sepeda untuk pulang ke rumah, namun ternyata ban sepeda bocor di tengah jalan. Nah, temanku mau ganti ban namun aku tidak enak karena dia terlalu baik denganku. Kemudian aku bilang agar memperbaikinya besok saja, biar aku saja. Kemudian dia mendorong sepedanya sampai rumahnya.”

Membaca sms ini seperti memberikan pelajaran bagiku, bagaimana seharusnya berteman. Bagaimana kita menjalin teman yang “teman”. Teman yang tulus, tidak ada kepentingan dan tidak ada saling memanfaatkan. SMS dari Ucil juga memberikan satu pesan yang sangat penting bagi kita. Dia seolah mengajarkan bahwa berteman itu tidaklah sulit, hanya satu modal yang kita junjung tinggi, yaitu Ketulusan.

image

Sudahkah kita tulus dalam berteman? Atau berteman dalam konteks simbiosis mutualisme saja?

Semoga kita mempunyai ketulusan itu. Sehingga teman kita akan bahagia dan kita dapat menjadi berkat bagi teman kita.

Comments

One response to “Ketulusan dalam Berteman”

  1. Cicil Avatar
    Cicil

    setuju mas richardd….

Leave a Reply to Cicil Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *